21.12.08

Kehidupan hanya mimpi

. 21.12.08
Kehidupan itu hanya mimpi. Rata-rata semua orang menganggap kehidupan ini nyata, tapi jika ditelaah lebih jauh kenyataan itu hanya merupakan mimpi yang berlum terbangunkan. Pada intinya Kehidupan Hanya Mimpi. Beginilah ilustrasinya ...

“Seseorang yang bermimpi ketabrak oleh bus dapat membuka matanya lagi di rumah sakit dalam mimpinya dan memahami bahwa ia cacat, tetapi itu semua dalam mimpi. Ia juga dapat bermimpi meninggal dalam kecelakaan mobil, malaikat kematian merenggut nyawanya dan kehidupan akhirat di mulai, peristiwa yang terakhir ini di alami dengan cara yang sama dalam kehidupan ini yang sebagaimana mimpi – merupakan persepsi.

Di dalam dunia realitas kehidupan semua bisa disentuh dengan tangan dan dilihat dengan mata. Dalam mimpi juga terjadi “bisa menyentuh dengan tangan dan melihat dengan mata” tetapi dalam kenyataannya kemudian tidak mempunyai tangan, mata ataupun yang lain. Tidak ada realitas materi yang membuat benda-benda ini terjadi kecuali otak.

Apa yang memisahkan kehidupan nyata dari mimpi ?. Sebenarnya kedua kehidupan ini masuk menjadi ada adalah di dalam otak, ketika kita bangun dari mimpi tidak ada alasan logis untuk tidak berfikir bahwa kita telah memasuki mimpi yang lebih panjang yang disebut dengan “kehidupan nyata”. Alasan kita menganggap khayal terhadap mimpi kita dan menganggap “nyata” terhadap dunia ini hanya merupakan hasil dari kebiasaan dan prasangka kita. Hal ini menjelaskan bahwa kita bisa dibangunkan dari kehidupan di dunia yang kita tinggali saat ini. Seperti halnya dibangunkan dari mimpi.

Hal ini dapat dibuktikan lagi dengan menghubungkan syaraf secara pararel. Misalkan orang A dan B di hubungkan secara pararel, maka ketika A ditabrak mobil, mengalami koma, maka koma akan juga dialami oleh B sebagaimana yang dirasakan oleh A. Jadi mobil manakah yang nyata sesungguhnya menabrak orang itu?, kalau sama-sama merasakan tabrakan tersebut.

Seperti kita lihat, manusia tidak mungkin melampaui indranya dan melepaskannya. Dalam hal ini, jiwa manusia terbuka meskipun terhadap semua jenis gambaran kejadian fisik. Meskipun tidak mempunyai badan fisik dan tanpa keberadaan materi ataupun bobot material, manusia tidak mungkin menyadari hal ini karena menganggap kesan tiga dimensi ini nyata dan keberadaannya pasti, karena setiap orang bergantung pada persepsi yang dialami oleh organ-organ indranya. Saya tidak bisa mengamati apapun kecuali persepsi “David Hume (filsuf Inggirs).” Lalu, apa sebenarnya yang membuat kehidupan?. Kalau semua adalah persepsi, manusia juga persepsi. Lantas siapa yang mengamati dan melaksanakan kehidupan?.

Links Panduan Bisnis Internet

Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



0 komentar:

Poskan Komentar

Mencerdaskan Spiritual

 

Komentar Terbaru

Pengikut

Template by o-om| Blogger | Cak Rohman Cak Rohman | Mojokerto