Akhir-akhir ini terlihat seperti kurang bersahabat dengan dunia terlekominikasi. Bukan dari segi elektroniknya, melainkan dari segi SPP resmi yang digunakan dalam melakukan komunikasi. Pulsa, ya itulah nama umum orang menyebutnya.
Belum ada dua minggu berlangsung, sudah dua kali ditinggalkan angka puluhan ribu yang disebut sebagai pulsa itu. Sebutan M3 untuk kartu yang mengisi hpku, beberapa hari yang lalu saya isi dengan pulsa super SMS berisi 2000 SMS senilai Rp. 30.000. Berharap dikemudian hari aktivitas sms tidak terpikirkan lagi dan dan jika dihitung total memang lebih arif melihat kondisi keuangan. Sedang untuk biaya Telpnya bisa dianggarkan sendiri. Tapi apa yang terjadi, karena orang baru yang belum paham benar tentang fasilitas tersebut, hanya berlandas pada referensi teman semata, beberapa hari kemudian pencet-memencet akhirnya menghapus saldo yang masih tersisa sekitar 1500 SMS.
Tidak cukup sampai di situ, untuk yang kedua kalinya, dengan semangat mencoba lagi dan ilmu yang sudah dikorek sana-sini, sampailah kepada penjual pulsa untuk reques lagi pulsa yang sama. Kali ini bukan pada kesalahan pribadi tapi lebih pada sebab saudara yang meminjam hp wakltu itu kurang mengerti dengan Petunjuk operasionalnya, jadinya sekali lagi pencen-memencet, jreng hilanglah lagi saldo yang masih tersisa sekitar 1600 SMS. Tapi maaf, untuk yang kesalahan kedua ini hanya ada pergantian sistem saja.
Jika dihitung total kerugian, memang hal ini bukan salah satu faktor penyebab krisis global yang terjadi saat ini. Tapi jika saat evaluasi dilakukan dengan melirik kemampuan dompet saat ini, ya cukup berarti. Pesan yang saya dapat dari kejadian itu seperti membisikkan "Jangan ada pulsa diantara kita". Wassalam
Netbook ACER Aspire One 722 Baru
10 jam yang lalu




Tulisan Terkait Lainnya
0 komentar:
Poskan Komentar